have you take a bath

Senin, 03 Mei 2010

sebelum abu -abu tidak mempan terhadap pemutih

kemarin aku mengikuti sebuah pelatihan dakwah bagi aktivis kampus.
tidak seperti judulnya, di sana kami terus menerus mendebatkan strategi dakwah parlemen atau non-parlemen.
kami saling berargumen, saling hujat, terkadang menjatuhkan ormas pergerakan lain.
aku cukup miris melihatnya. inilah yang kupikirkan :

segala hal yang secara konseptual tampak benar, mungkin tidak cukup relevan saat harus diaplikasikan. dan dalam berpolitik, dalam hal ini untuk konteks dakwah, satu hal yang patut di kedepankan adalah etika dan strategi.

secara pribadi aku lebih setuju berparlemen, atau dengan kata lain kooperatif dengan pemerintahan. selain lebih real dan efisien, adalah dengan alasan perbaikan. sementara mayoritas disana mengutuk hal itu dengan alasan beruswah pada nabi kita Muhammad SAW.
akupun punya alasan untuk itu. karena bagiku, aplikasi yang diterapkan rasul bisa saja kurang relevan, toh kita yang berparlemen masih memegang konsep keislaman dan berdiri di kubu kebenaran. lagi pula, dalam siasah, tidak ada hitam yang benar2 hitam atau putih yang sungguh2 putih. ini semua cuma permainan.
menutup mata buat kebathilan yang harus kita lawan bagiku tidaklahbijaksana, teman.
karena kita bukan lagi berhadapan dengan kaum yang mengubur putrinya hidup2 atau membeli budak. yang kita hadapi adalah bangsa yang melek teknologi, intens terhadap akses informasi. yang selera fashionnya bagus dan musiknya beraneka ragam.
yang terupdate globalisasi, yang kuat link birokrasinya, yang di backing sama yahudi, yang sahamnya bertambah mahal dengan membodohi kita2 yang cuma tau mendebat. yang tidak pandai berstrategi dan terpecah belah.
tidak boleh luput diperhitungkan segala halnya.
karena terlalu banyak yang kita belum tahu. dan lebih bijaksama jika kita open minded.
tapi apapun pilihanmu, sebaiknya hargai sesamamu.

teman, tidak malukah kalian berdebat kusir seperti itu sementara hari ini televisi memborbardir aset masa depan kita dengan doktrinasi dan idealisme hedonis yang membunuh mentalitas mereka perlahan - lahan?
apakah demokrasi yang kalian musuhi itu pantas menyisakan residu beracun yang laten sebagai bahaya mengendap - endap yang kelak menghantui kekhalifahan yang kita mimpikan bersama?
atau, lebih real dari itu, apakah mimpi itu bisa dicapai dengan menghujat saudara kita sendiri?

aku berangkat dari pemahaman bahwa politik itu abu - abu, seperti hidup.
kalau kalian tidak mau terjun dengan alasan tidak mau mencemari 'putih' yang kalian miliki, bukankah itu egois? apakah kalian bisa bertahan tetap putih dengan membiarkan lautan abu - abu itu semakin kelam dan pekat kemudian hancur?
apakah dua mata dan telinga yang kalian miliki bisa tinggal diam sementara mulutmu yang mungil mendominasi dengan cercaan kosong yang kurang beradab?

perlukah kita mendebatkan strategi satu dengan yang lain untuk mimpi yang sama bila itu hanya akan melukai sesama kita?
bukankah lebih efisien kalo kita bersinergi, bersiasah untuk satu tujuan bulat. biarlah kita menempuh jalur berbeda, agar kita bisa tetap seirama.

dan yang paling penting dari ini semua, lakukan sesuatu!
sebelum abu - abu tidaklagi mempan diberi pemutih..

Tidak ada komentar:

Posting Komentar