have you take a bath

Rabu, 16 Juni 2010

my very old story, and that is the beginning of all..

sebagai putri seorang PNS, aku adalah perantau. seperti juga semua orang dikeluargaku. PNS begitu akrab dengan mutasi, itulah mengapa aku sampai bisa 'numpang' lahir di pekan baru juga 'numpang' gede di Jember sana.
sepele sih kelihatannya, tapi apa - apa yang tampak sepele tidak selalu sesepele tampaknya. sebab perantau harus adaptif dan berjiwa petualang, dan, well i was not yet..


Jember adalah kota kecil yang indah, cocok buat pensiunan, tapi bukan buat keluarga berkultur metropolitan seperti keluargaku. karena terlanjur ayahku dimutasi kesini sajalah, jadi, apa boleh buat?
aku kesepian sekali, masih ingat rasanya memetik bunga kuburan atau bermain masak - masakan berdua saja dengan adikku. kami terasing karena tidak bisa bahasa jawa. parahnya, karena semasa TK aku dinilai jenius dan loncat kelas, jadi aku lulus TK diusia 4,5 tahun. tidak ada SD bagus yang mau menerimaku. dan tahun itu, aku merasa seperti alien.
aku masuk sekolah tahun berikutnya lewat tes IQ. sekolah unggulan di Jawa-Timur. aku cepat bergaul. aku menemukan teman untuk berbagi  dan kehidupan membaik.

suatu hari, yah, naas. aku bertemu dengannya. anak laki - laki itu hitam manis, semampai, bermata bulat, berhidung mancung, berwajah aksen arabik dengan senyum yang, well, menggoda!
yah, aku memang jatuh cinta padanya. tapi bukan saat itu.
saat lain yang lebih naas lagi karena terlalu romantis.
aku kehujanan berdua saja. berdua tanpa payung, becak atau apalah yang dapat membawa kami pulang. kamipun berbagi hujan berdua.Hujan yang tidak juga reda sampai hampir gelap.Hujan yang membuat kami main hujan - hujanan untuk pulang.Tertawa sepanjang jalan, berusaha menghilangkan kecanggungan yang berganti jadi kagum dan tersiar lewat sorot mata kami.

aku sudah lupa apa saja yang kami ributkan hari itu. lebih tepatnya, aku sudah lama memutuskan untuk tidak mengingatnya lagi. karena kagum yang hari itu aku siarkan lewat sorot mataku, kelak membara jadi api yang menyita jam tidurku.

Tapi ceritanya jadi panjang, karena ternyata kami sekelas ditahun kedua.
dia jadi ketua kelas.
memimpin baris tiap pagi, sebelum semangat pelajar beranjak pergi..
memimpin hatiku untuk tinggal, statis dalam cinta pertama yang dangkal, dalam lumpur hidup, menghisap lumat kewarasanku.menyisakan sedikit saja waktu tidur. menguras tinta pulpenku, juga tinta takdirku.

aku merasa sinting. tiap hari, aku semakin jatuh. tiap malam aku bermimpi lagi dan lagi tentang tuxedo bertopeng di serial sailor moon.
"sudah mirip tuxedo bertopeng belum?"
itu adalah kalimat tanya pertama yang dia utarakan padaku. hari ini, aku sudah dapat melupakan kejadian itu, tapi saat itu, aku mengulangnya dalam sadar, dalam delir, juga dalam lelap.
itulah periode paling kelam dalam hidupku. sebab dia terlanjur terikat dengan sahabatku, teman sebangku ku.

tapi aku melayang saat bersama dia. menyalahkan Tuhan karena sudah pasti aku terlalu kecil untuk semua ini.
tapi peduli apa?
sahabatku tidak pernah tau, dan ketika dia tau, dia memusuhiku.
aku seperti menganggap serius airmatanya, dan membuatku serius meminta Ayah mengajukan mutasi ke Jakarta.
aku pindah tanpa penjelasan apa - apa. menangis sepanjang jalan. berulang - ulang menengok ke belakang, berharap keajaiban membawa serta tux di belakang bus. dan aku kalah !!
tux bilang, harapan ga sama kaya layangan. harapan tetap bisa terbang walaupun ga ada angin.
tapi harapanku adalah yang paling besar, jadi tidak akan pernah bisa terbang. kandas. biar saja. biar tetap suci begitu.

dan hingga hari ini aku menegakkan sumpah tinggi - tinggi. aku tidak akan pernah menyerah !
walaupun untuk kata "tidak menyerah" itu aku harus menghabiskan seumur hidupku.

i'm sorry, tux.
i wont be like that anymore..

Tidak ada komentar:

Posting Komentar