Banyak pasar identik dengan bau, sampah, juga becek.
Mereka mengenakan boots, sma sekali bukan buat bergaya.
Di pasar, mereka berteriak2 sekenanya dan berkata kasar. Ironisnya, ibuku betah sekali berlama2 disana ! Itulah mengapa aku jengkel sekali bila diajak berbelanja.
Tapi suatu hari, aku menemukan anomali dibalik keranjang jengkol busuk dan gunungan sampah yg meninggi tiap hari.
Tentang ibu2 yg bangun lbh awal dan pergi ke pasar, agar dengan uangnya yg terbatas keluarganya bisa makan makanan bergizi.
Tentang tengkulak tua renta mentriple jaket usangnya untuk melawan dingin dini hari demi anak istrinya.
Juga tentang pedagang2 berbicara kasar yg sungguh2 pandai mentertawakan nasib.
Di pasar, mereka menolak menyerah pd hidup.
Di pasar, cinta dan semangat hidup tumpah ruah. Menempel pd formula lumpur bau jengkol yg melekat di sepatu boots mereka.
Di pasar, para pejuang nasib bertarung, bergumul sampai tdk bs bergumul lg.
Maka perhatikanlah, nikmat Tuhan yg mana lagi yg kau dustakan?
Jumat, 30 April 2010
Langganan:
Posting Komentar (Atom)


Tidak ada komentar:
Posting Komentar