aku sempat putus sama pacarku hariini. masalahnya sepele, tapi sulit dicerna.
di hari aku lulus sekolah, pacarku berhalangan hadir, bahkan sedikit banyak dia tampak tidak acuh. karena aku telah terbiasa, maka aku biasa saja.
aku berpose dengan semua orang yang ku anggap penting hari itu untuk menutupi harapan kosongku bahwa diapun akan muncul.
hari ini, pacarku lulus. aku memang tidak hadir, aku bangun siang dan tidak bergairah karena aku berharap untuk hadir. tapi gerak - geriknya seperti memperingatkanku bahwa ia ingin aku tidak hadir.
aku memintanya untuk tidak berfoto dengan teman perempuannya karena aku iri.
aku mengenang perasaanku dihari kelulusanku.
perasaan yang sama ketika aku pertama kali mengenakan rok abu - abu dan memberitahu semua orang rasanya.
tapi menurutnya, teman perempuannya memaksa.
aku kecewa sangat dalam. jadi dengan gegabah aku memutuskan relationship kami.
dan disini semua dimulai.
kepalaku terasa pekat, aku bahkan tidak menangis.
aku seperti hilang, seperti terhisap di dasar nestapa kelabu yang tidak putus.
sepertinya mudah saja menghujam pisau di ulu hatiku bila aku tidak ingat Tuhan.
aku ketakutan.
kenapa ada substansi lain yang mampu menggenggamku sedemikian rupa?
aku memohon untuk kembali.
untuk saja dia memberi kesempatan.
entah apa yang akan terjadi bila akhirnya seperti itu. tapi, toh hidup harus dihargai..
Minggu, 09 Mei 2010
Senin, 03 Mei 2010
sebelum abu -abu tidak mempan terhadap pemutih
kemarin aku mengikuti sebuah pelatihan dakwah bagi aktivis kampus.
tidak seperti judulnya, di sana kami terus menerus mendebatkan strategi dakwah parlemen atau non-parlemen.
kami saling berargumen, saling hujat, terkadang menjatuhkan ormas pergerakan lain.
aku cukup miris melihatnya. inilah yang kupikirkan :
segala hal yang secara konseptual tampak benar, mungkin tidak cukup relevan saat harus diaplikasikan. dan dalam berpolitik, dalam hal ini untuk konteks dakwah, satu hal yang patut di kedepankan adalah etika dan strategi.
secara pribadi aku lebih setuju berparlemen, atau dengan kata lain kooperatif dengan pemerintahan. selain lebih real dan efisien, adalah dengan alasan perbaikan. sementara mayoritas disana mengutuk hal itu dengan alasan beruswah pada nabi kita Muhammad SAW.
akupun punya alasan untuk itu. karena bagiku, aplikasi yang diterapkan rasul bisa saja kurang relevan, toh kita yang berparlemen masih memegang konsep keislaman dan berdiri di kubu kebenaran. lagi pula, dalam siasah, tidak ada hitam yang benar2 hitam atau putih yang sungguh2 putih. ini semua cuma permainan.
menutup mata buat kebathilan yang harus kita lawan bagiku tidaklahbijaksana, teman.
karena kita bukan lagi berhadapan dengan kaum yang mengubur putrinya hidup2 atau membeli budak. yang kita hadapi adalah bangsa yang melek teknologi, intens terhadap akses informasi. yang selera fashionnya bagus dan musiknya beraneka ragam.
yang terupdate globalisasi, yang kuat link birokrasinya, yang di backing sama yahudi, yang sahamnya bertambah mahal dengan membodohi kita2 yang cuma tau mendebat. yang tidak pandai berstrategi dan terpecah belah.
tidak boleh luput diperhitungkan segala halnya.
karena terlalu banyak yang kita belum tahu. dan lebih bijaksama jika kita open minded.
tapi apapun pilihanmu, sebaiknya hargai sesamamu.
teman, tidak malukah kalian berdebat kusir seperti itu sementara hari ini televisi memborbardir aset masa depan kita dengan doktrinasi dan idealisme hedonis yang membunuh mentalitas mereka perlahan - lahan?
apakah demokrasi yang kalian musuhi itu pantas menyisakan residu beracun yang laten sebagai bahaya mengendap - endap yang kelak menghantui kekhalifahan yang kita mimpikan bersama?
atau, lebih real dari itu, apakah mimpi itu bisa dicapai dengan menghujat saudara kita sendiri?
aku berangkat dari pemahaman bahwa politik itu abu - abu, seperti hidup.
kalau kalian tidak mau terjun dengan alasan tidak mau mencemari 'putih' yang kalian miliki, bukankah itu egois? apakah kalian bisa bertahan tetap putih dengan membiarkan lautan abu - abu itu semakin kelam dan pekat kemudian hancur?
apakah dua mata dan telinga yang kalian miliki bisa tinggal diam sementara mulutmu yang mungil mendominasi dengan cercaan kosong yang kurang beradab?
perlukah kita mendebatkan strategi satu dengan yang lain untuk mimpi yang sama bila itu hanya akan melukai sesama kita?
bukankah lebih efisien kalo kita bersinergi, bersiasah untuk satu tujuan bulat. biarlah kita menempuh jalur berbeda, agar kita bisa tetap seirama.
dan yang paling penting dari ini semua, lakukan sesuatu!
sebelum abu - abu tidaklagi mempan diberi pemutih..
tidak seperti judulnya, di sana kami terus menerus mendebatkan strategi dakwah parlemen atau non-parlemen.
kami saling berargumen, saling hujat, terkadang menjatuhkan ormas pergerakan lain.
aku cukup miris melihatnya. inilah yang kupikirkan :
segala hal yang secara konseptual tampak benar, mungkin tidak cukup relevan saat harus diaplikasikan. dan dalam berpolitik, dalam hal ini untuk konteks dakwah, satu hal yang patut di kedepankan adalah etika dan strategi.
secara pribadi aku lebih setuju berparlemen, atau dengan kata lain kooperatif dengan pemerintahan. selain lebih real dan efisien, adalah dengan alasan perbaikan. sementara mayoritas disana mengutuk hal itu dengan alasan beruswah pada nabi kita Muhammad SAW.
akupun punya alasan untuk itu. karena bagiku, aplikasi yang diterapkan rasul bisa saja kurang relevan, toh kita yang berparlemen masih memegang konsep keislaman dan berdiri di kubu kebenaran. lagi pula, dalam siasah, tidak ada hitam yang benar2 hitam atau putih yang sungguh2 putih. ini semua cuma permainan.
menutup mata buat kebathilan yang harus kita lawan bagiku tidaklahbijaksana, teman.
karena kita bukan lagi berhadapan dengan kaum yang mengubur putrinya hidup2 atau membeli budak. yang kita hadapi adalah bangsa yang melek teknologi, intens terhadap akses informasi. yang selera fashionnya bagus dan musiknya beraneka ragam.
yang terupdate globalisasi, yang kuat link birokrasinya, yang di backing sama yahudi, yang sahamnya bertambah mahal dengan membodohi kita2 yang cuma tau mendebat. yang tidak pandai berstrategi dan terpecah belah.
tidak boleh luput diperhitungkan segala halnya.
karena terlalu banyak yang kita belum tahu. dan lebih bijaksama jika kita open minded.
tapi apapun pilihanmu, sebaiknya hargai sesamamu.
teman, tidak malukah kalian berdebat kusir seperti itu sementara hari ini televisi memborbardir aset masa depan kita dengan doktrinasi dan idealisme hedonis yang membunuh mentalitas mereka perlahan - lahan?
apakah demokrasi yang kalian musuhi itu pantas menyisakan residu beracun yang laten sebagai bahaya mengendap - endap yang kelak menghantui kekhalifahan yang kita mimpikan bersama?
atau, lebih real dari itu, apakah mimpi itu bisa dicapai dengan menghujat saudara kita sendiri?
aku berangkat dari pemahaman bahwa politik itu abu - abu, seperti hidup.
kalau kalian tidak mau terjun dengan alasan tidak mau mencemari 'putih' yang kalian miliki, bukankah itu egois? apakah kalian bisa bertahan tetap putih dengan membiarkan lautan abu - abu itu semakin kelam dan pekat kemudian hancur?
apakah dua mata dan telinga yang kalian miliki bisa tinggal diam sementara mulutmu yang mungil mendominasi dengan cercaan kosong yang kurang beradab?
perlukah kita mendebatkan strategi satu dengan yang lain untuk mimpi yang sama bila itu hanya akan melukai sesama kita?
bukankah lebih efisien kalo kita bersinergi, bersiasah untuk satu tujuan bulat. biarlah kita menempuh jalur berbeda, agar kita bisa tetap seirama.
dan yang paling penting dari ini semua, lakukan sesuatu!
sebelum abu - abu tidaklagi mempan diberi pemutih..
Jumat, 30 April 2010
kota ini, kota itu..
kota itu sudah tertinggal dbelakang.
Teman2, cinta, hari2 indah terkubur sepanjang margonda yg padat.
Menyesaki foodcourt2 di margo city, detos, cibubur junc. , botani square..
Tidk ada lagi kereta jabotabek nan kumuh.
Tidak juga hangout tiap hari seperti dulu..
Tahukah teman, kau kurindukan seperti aroma nasi uduk ujung jalan yg dlu kunikmati stiap pagi..
Taukah cinta, dlam kesenduan kau masih tetap cahaya..
Seluruhnya, seluruhnya..
Tutup cerita saat tidak lagi aku mengenakan rok abu2..
Dikota itu ada masa lalu..
Dikota ini penuh dengan hari baru..
Teman2, cinta, hari2 indah terkubur sepanjang margonda yg padat.
Menyesaki foodcourt2 di margo city, detos, cibubur junc. , botani square..
Tidk ada lagi kereta jabotabek nan kumuh.
Tidak juga hangout tiap hari seperti dulu..
Tahukah teman, kau kurindukan seperti aroma nasi uduk ujung jalan yg dlu kunikmati stiap pagi..
Taukah cinta, dlam kesenduan kau masih tetap cahaya..
Seluruhnya, seluruhnya..
Tutup cerita saat tidak lagi aku mengenakan rok abu2..
Dikota itu ada masa lalu..
Dikota ini penuh dengan hari baru..
confession
Wkt ku pikir hdupku keras, ternyta kepalaku lah yg lbh keras..
Ktika ku kira pilihanku yg terbaik, sesungguhnya itulah yg Tuhan pilihkan dan aku tdk perlu besar kepala..
Hari lain saat aku mampu menggenggam dunia, aku bahkan blum mampu mengendalikan emosiku sendiri..
Bergelimang hari baru di kota ini membuatku mengerti ;
Kepalaku tdk perlu terlalu keras.
Mataku tdk bisa selalu memandang ke atas.
Dan harga diriku bukan digantungkan setara dgn bulan..
Aku baru saja belajar dari banyak sekali kelas kehidupan. Tenang sajalah, sayang. Besokpun adalah hari baru, bukan?
*being a good social worker..
As we wish
Ktika ku kira pilihanku yg terbaik, sesungguhnya itulah yg Tuhan pilihkan dan aku tdk perlu besar kepala..
Hari lain saat aku mampu menggenggam dunia, aku bahkan blum mampu mengendalikan emosiku sendiri..
Bergelimang hari baru di kota ini membuatku mengerti ;
Kepalaku tdk perlu terlalu keras.
Mataku tdk bisa selalu memandang ke atas.
Dan harga diriku bukan digantungkan setara dgn bulan..
Aku baru saja belajar dari banyak sekali kelas kehidupan. Tenang sajalah, sayang. Besokpun adalah hari baru, bukan?
*being a good social worker..
As we wish
tentang thia..
Hidup adalah kertas. Tempat ku tuliskan smw yg terlintas. Maka aku merepresentasikan diriku sdemikian rupa..
Di genggaman tanganku ada dunia. Ku putar2, permainkan seperti boneka.
Di bawah kakiku ada kuasa. Ku pijak dgn seksama. Sebab Tuhan itu ada.
Di atas kepalaku matahari berpijar gemilang. Sepelemparan tangan aku mampu menggapainya. Tapi tubuhku bisa terluka karena hanya malaikat yg terbuat dari cahaya.
Karenanya aku bersikap baik.
Bernafas adalah bagian paling sulit. Karena otot perut dan dadamu akan jemu bersinergi sepanjang waktu jika nafasmu sebatas mubazir yg menambah kuota 'sampah-anorganik-peracun-tanah..
Yg lainnya adalah mencintai. Bertahun2 nama itu terpatri, tdk habis dmakan waktu, cinta tetap abstrak buatku.
Tapi aku tau satu. Cinta adalah ketulusan. Hanya itu.
Sbab, ketika menatap hatinya, menukik lebih dalam dan menemukan bagian diriku yg entah mengapa bisa ada disitu, aku rela menukar dunia agar dia bahagia..
Jadi, meski matahari hidupku masih belum ku gapai, aku tau, namaku thia. Dan aku tdk akan menyerah!
Well, indah pada waktunya..
Di genggaman tanganku ada dunia. Ku putar2, permainkan seperti boneka.
Di bawah kakiku ada kuasa. Ku pijak dgn seksama. Sebab Tuhan itu ada.
Di atas kepalaku matahari berpijar gemilang. Sepelemparan tangan aku mampu menggapainya. Tapi tubuhku bisa terluka karena hanya malaikat yg terbuat dari cahaya.
Karenanya aku bersikap baik.
Bernafas adalah bagian paling sulit. Karena otot perut dan dadamu akan jemu bersinergi sepanjang waktu jika nafasmu sebatas mubazir yg menambah kuota 'sampah-anorganik-peracun-tanah..
Yg lainnya adalah mencintai. Bertahun2 nama itu terpatri, tdk habis dmakan waktu, cinta tetap abstrak buatku.
Tapi aku tau satu. Cinta adalah ketulusan. Hanya itu.
Sbab, ketika menatap hatinya, menukik lebih dalam dan menemukan bagian diriku yg entah mengapa bisa ada disitu, aku rela menukar dunia agar dia bahagia..
Jadi, meski matahari hidupku masih belum ku gapai, aku tau, namaku thia. Dan aku tdk akan menyerah!
Well, indah pada waktunya..
pasar
Banyak pasar identik dengan bau, sampah, juga becek.
Mereka mengenakan boots, sma sekali bukan buat bergaya.
Di pasar, mereka berteriak2 sekenanya dan berkata kasar. Ironisnya, ibuku betah sekali berlama2 disana ! Itulah mengapa aku jengkel sekali bila diajak berbelanja.
Tapi suatu hari, aku menemukan anomali dibalik keranjang jengkol busuk dan gunungan sampah yg meninggi tiap hari.
Tentang ibu2 yg bangun lbh awal dan pergi ke pasar, agar dengan uangnya yg terbatas keluarganya bisa makan makanan bergizi.
Tentang tengkulak tua renta mentriple jaket usangnya untuk melawan dingin dini hari demi anak istrinya.
Juga tentang pedagang2 berbicara kasar yg sungguh2 pandai mentertawakan nasib.
Di pasar, mereka menolak menyerah pd hidup.
Di pasar, cinta dan semangat hidup tumpah ruah. Menempel pd formula lumpur bau jengkol yg melekat di sepatu boots mereka.
Di pasar, para pejuang nasib bertarung, bergumul sampai tdk bs bergumul lg.
Maka perhatikanlah, nikmat Tuhan yg mana lagi yg kau dustakan?
Mereka mengenakan boots, sma sekali bukan buat bergaya.
Di pasar, mereka berteriak2 sekenanya dan berkata kasar. Ironisnya, ibuku betah sekali berlama2 disana ! Itulah mengapa aku jengkel sekali bila diajak berbelanja.
Tapi suatu hari, aku menemukan anomali dibalik keranjang jengkol busuk dan gunungan sampah yg meninggi tiap hari.
Tentang ibu2 yg bangun lbh awal dan pergi ke pasar, agar dengan uangnya yg terbatas keluarganya bisa makan makanan bergizi.
Tentang tengkulak tua renta mentriple jaket usangnya untuk melawan dingin dini hari demi anak istrinya.
Juga tentang pedagang2 berbicara kasar yg sungguh2 pandai mentertawakan nasib.
Di pasar, mereka menolak menyerah pd hidup.
Di pasar, cinta dan semangat hidup tumpah ruah. Menempel pd formula lumpur bau jengkol yg melekat di sepatu boots mereka.
Di pasar, para pejuang nasib bertarung, bergumul sampai tdk bs bergumul lg.
Maka perhatikanlah, nikmat Tuhan yg mana lagi yg kau dustakan?
Rabu, 21 April 2010
babi
aku menuliskan tentang lara. juga sesal. maukah kau dengar?
semasa SMA aku punya persahabatan yang ku kenang dengan getir hingga saat ini. tentang isu SARA yang jahat serta ketidakpekaan.
maukah kau mengerti?
tidak ada deskripsi yang mampu membuatnya terdeskripsikan. dia tampil sederhana dan ganjil. seperti lukisan realis dengan semua garis melenceng, tidak, tetap saja bukan abstrak.
dia adalah simbol korban yang digdaya. sial sejak lahir membuatnya berlaku kejam dan sinis. aku mencium aroma amarah dibalik kerah baju putihnya dan dendam dibalik sablonan kaus hitamnya. selain hitam dan putih, dia hanya mengenakan abu - abu.
aku benci setengah mati harus terlibat dengannya, juga merasa beruntung.
dia adalah buku yang akan kau ulangi membacanya biarpun sudah puluhan kali.
dia adalah manggis dengan kulit pahit dan keras tapi lembut di dalam. atau mungkin terbalik?
terbalik merupakan poinnya. jangan tertawa, aku sungguhan!
karenanya aku memanggil dia Babi..
babi hafal juice favoritku, jam tidurku, apa yang kusuka dan kubenci.
babi bangga sekali kalau menang. karenanya aku membiarkan dia menang.
babi satu - satunya teman disekolah yang tahu telephon rumahku.
babi mengajakku nonton tiap minggu.
babi membenciku, juga merindukanku, keduanya dia sembunyikan dalam satu waktu dibalik matanya yang sipit.
babi mengira aku menyayanginya, dia benar, tapi salah menerka.
babi membujukku berhenti menangis, juga membuatku menangis besoknya.
babi memperingatkan bobot tubuhku.
babi mengucapkan selamat ulangtahun paling awal saat aku berulang tahun.
babi pikir aku kesal bila dia mendekati perempuan lain, dia benar, tapi taukah apa yang membuatku kesal?
karena nantinya dia menyakiti dirinya dengan cara itu.
babi dan aku bertengkar juga baikan ditengah hujan.
aku benci babi karena melupakanku untuk game pokemon barunya.
aku benci babi yang over-reaktif buat hal kecil.
aku benci babi yang belakangan ga boleh keluar malam.
aku benci babi ada bersamaku saat aku merindukan gagas.
aku benci babi sok kuat.
aku benci babi yang akhirnya nyakitin diri sendiri.
aku benci babi. hanya itu
dan aku merindukannya sekarang.
hei, jangan sakitin diri sendiri!
semasa SMA aku punya persahabatan yang ku kenang dengan getir hingga saat ini. tentang isu SARA yang jahat serta ketidakpekaan.
maukah kau mengerti?
tidak ada deskripsi yang mampu membuatnya terdeskripsikan. dia tampil sederhana dan ganjil. seperti lukisan realis dengan semua garis melenceng, tidak, tetap saja bukan abstrak.
dia adalah simbol korban yang digdaya. sial sejak lahir membuatnya berlaku kejam dan sinis. aku mencium aroma amarah dibalik kerah baju putihnya dan dendam dibalik sablonan kaus hitamnya. selain hitam dan putih, dia hanya mengenakan abu - abu.
aku benci setengah mati harus terlibat dengannya, juga merasa beruntung.
dia adalah buku yang akan kau ulangi membacanya biarpun sudah puluhan kali.
dia adalah manggis dengan kulit pahit dan keras tapi lembut di dalam. atau mungkin terbalik?
terbalik merupakan poinnya. jangan tertawa, aku sungguhan!
karenanya aku memanggil dia Babi..
babi hafal juice favoritku, jam tidurku, apa yang kusuka dan kubenci.
babi bangga sekali kalau menang. karenanya aku membiarkan dia menang.
babi satu - satunya teman disekolah yang tahu telephon rumahku.
babi mengajakku nonton tiap minggu.
babi membenciku, juga merindukanku, keduanya dia sembunyikan dalam satu waktu dibalik matanya yang sipit.
babi mengira aku menyayanginya, dia benar, tapi salah menerka.
babi membujukku berhenti menangis, juga membuatku menangis besoknya.
babi memperingatkan bobot tubuhku.
babi mengucapkan selamat ulangtahun paling awal saat aku berulang tahun.
babi pikir aku kesal bila dia mendekati perempuan lain, dia benar, tapi taukah apa yang membuatku kesal?
karena nantinya dia menyakiti dirinya dengan cara itu.
babi dan aku bertengkar juga baikan ditengah hujan.
aku benci babi karena melupakanku untuk game pokemon barunya.
aku benci babi yang over-reaktif buat hal kecil.
aku benci babi yang belakangan ga boleh keluar malam.
aku benci babi ada bersamaku saat aku merindukan gagas.
aku benci babi sok kuat.
aku benci babi yang akhirnya nyakitin diri sendiri.
aku benci babi. hanya itu
dan aku merindukannya sekarang.
hei, jangan sakitin diri sendiri!
Langganan:
Postingan (Atom)

